Lebaran ¬ 1429H

Tahun ini lebaran pulang ke Palembang… Baru terasa susahnya transportasi dari Batam ke Palembang. Terutama sejak maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines yang biasanya setia melayani harus gulung tikar.Walhasil sekarang hanya satu maskapai yang melayani ke Palembang dari Batam yaitu Linus. Entah karena baru atau ada hal yang lain jelas bahwa kapasitasnya tidak cukup.
Akhirnya saya putuskan untuk tetap pulang melalui jalur laut…itupun harus ditebus dengan yang lumayan.

Tapi ya lebaran adalah lebaran saatnya kita berkumpul dengan sanak saudara, kapan lagi harus pulang buat orang yang merantau seperti saya kalau tidak saat lebaran ?

Foto rame-rame di Rumah Panda Rasyid

Foto rame-rame di Rumah Panda' Rasyid

belum lagi inget makanannya mmm

Nonton Laskar Pelangi The Movie

Kemarin saya nonton Laskar Pelangi the movie. Film ini merupakan produksi dari Miles Production yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Bercerita dengan setting tahun 70’an di Desa Gantong Pulau Belitong yang pada masa itu masih bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Tapi sekarang sudah mengalami pemekaran menjadi Provinsi Bangka Belitung. Di mana pada saat Pulau Bangka dan Belitung begitu jaya dengan hasil timah nya yang dikelolan oleh PN Timah ( sekarang PT Timah ).
Ceritanya sendiri adalah mengenai perjuangan sekelompok orang tua, guru dan murid yang memperjuangkan bahwa pendidikan itu adalah untuk semua orang. Diperlihatkan pemandangan yang cukup kontras antara sekolah yang mempunyai semua fasilitas seperti SD PN Timah dengan sekolah perintis yaitu SD Muhammadyah Gantong yang bahkan untuk mendapatkan murid baru pun susah. Ketika saya melihat ini saya langsung terbawa flashback kilas balik ke belakang yang membuat saya merasa beruntung sekaligus merasa sedih. Saya merasa beruntung karena saya juga termasuk dari sekian orang yang pernah merasakan dan menikmati fasilitas sekolah seperti yang digambarkan pada SD PN Timah itu, ya saya sekolah dari TK sampai SMP di sekolah yang dimiliki PT PUSRI salah satu BUMN penghasil pupuk terbesar nasional di Palembang. Yang semua fasilitas dan kemampuan guru terbaik kita punyai.
Disisi lain saya menjadi sedih karena keadaan seperti SD Muhammadyah yang digambarkan itu memang ada. Saya Kuliah Kerja Nyata pada tahun 2000-an di Kecamatan Pampangan, Sumatera Selatan. Pampangan sendiri tidak jauh dari Ibukota Propinsi Palembang dan Ibukota Kabupaten OKI, Kayu Agung. Pada waktu kami KKN, kami didatangi sama Kepala Sekolah SD Muhammadyah Pampangan untuk meminta kami mengajar di sana karena sudah dekat dengan Ebtanas dan memang mereka tidak punya guru lain, yang pada akhirnya saya ketahui satu-satunya guru mereka ya cuma kepala sekolahnya bedanya cuma mereka muridnya cukup tidak seperti yang di laskar pelangi yang terancam ditutup. Di sana sendiri ada SD Negeri, tapi memang terasa sekolah kita kurang cukup banyak menampung siswa dan juga kurang cukup murah dan lengkap fasilitas baik fisik maupun sdm-nya.

Dari film dan novel ini yang katanya adalah pengalaman dari sang penulis sendiri bisa membuka mata kita, bahwa untuk mencerdaskan bangsa ini tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah saja ataupun organisasi2 sejenis Muhammadyah saja , tapi memerlukan tanggung jawab dari kita semua, agar penerus bangsa kita punyai yang merupakan berlian yang belum terasah tidak pudar… Agar tidak ada Lintang yang tersia-siakan

Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, tapi dari kesan yang mendalam yang saya lihat dari filmnya saya yakin memang novelnya memang fenomenal, dan saya berjanji saya akan beli dan baca ( kalau sempat hehe ).