2012

Hmm akhirnya ketonton juga nih film, sebenernya mau nonton pas premiere tapi berhubung ada acara lain malahan tidak pernah sempat. Akhirnya harus nunggu seminggu lebih karena tiketnya susah banget didapet, mungkin terlalu heboh ya jadi banyak yang nonton.

Iklan

Ashita Yarou Wa Baka Yarou

Kalimat ini diucapkan oleh salah satu tokoh (kakeknya si pemeran utama wanita – Yoshida Rei) dalam J-dorama “Puropoozu Daisakusen” yang saya tonton minggu kemarin. Kalimat ini terasa berkesan karena minggu kemarin saya mendapatkan pengalaman yang berharga soal menunda-nunda pekerjaan, yang ujungnya saya sendiri yang repot dan mendapat tekanan dari banyak pihak. Akhirnya kalimat ini menginspirasi saya untuk jangan lagi deh kayak gini.
Kalimat ini sendiri artinya lebih kurang seperti ini “orang yang menganggap masih ada besok adalah orang yang bego”. Di sinilah letak bahwa waktu itu sangat terbatas dan berharga, time is money kata orang bule. Dalam Islam sendiripun soal waktu ada suratnya sendiri Al-Ashr.

Arti dari Surat Al-Ashr yang terdiri dari tiga ayat itu sendiri lebih kurang seperti di bawah (dikutip dari http://e-quran.sourceforge.net/ )
Nomor Surat: 103

QS. al-Ashr (103) : 1
Demi masa.

QS. al-Ashr (103) : 2
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,

QS. al-Ashr (103) : 3
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.

Dasar memang… ada masalah baru sadar.

Nonton Liga Champion Asia Sriwijaya FC Vs FC Seoul (Rencananya sih)

Dapet sms konten pas SFC Vs Persib kemarin (26/02/09) jadi pengen cepet pulang ke Palembang nonton SFC Vs Seoul FC di Jaka Baring, sekalian pulang Yu Desi married (ga papalah sekalian kan, rugi dah pulang gak nonton juga).

Baca lebih lanjut di sini http://sriwijayafc-palembang.blogspot.com/2009/01/pertama-home-lawan-seoul-fc.html.

Semoga pas nonton langsung jadi menang hehe

sriwijayafcvspersib3-1sms.jpg

Nonton Gara-gara Bola

Sore tadi maksain diri nomat di XXI Mega Mall Batam centre. Seperti biasa nonton film Indonesia “Gara-Gara Bola”. Diniatin nonton karena katanya film ini heboh banget. Skenarionya dibikin oleh duo debutan Agasyah Karim dan Khalid Kashogi yang juga didaulat jadi sutradara oleh produser Nia Dinata dibawah rumah produksinya yang baru “Happy Ending Picture”. Dibintangi oleh Winky Wiryawan, Herjunot Ali, dan debut Laura Basuki, didukung oleh Tarzan.

Sinopsisnya lebih kurang begini nih

Dua sahabat, Ahmad (Winky Wiryawan) memiliki usaha desaign T-shirt kecil-kecilan, sementara Heru (Herjunot Ali) bekerja sebagai kasir di restoran franchise bakmi milik ayahnya. Mereka penggemar berat sepakbola dan kos di tempat yang sama

Juli 2006, empat hari sesudah semifinal Piala Dunia…
Saking nge-fans nya dengan tim Jerman, mereka taruhan untuk Jerman, sementara pemenang piala dunia adalah Italia. Heru dan Ahmad punya waktu hingga malam pertandingan final piala dunia untuk melunasi hutang, atau mereka harus menghadapi debt collector kiriman salah satu bandar judi bola terbesar di Jakarta..

Dua sahabat ini harus memutar otak, patungan demi melunasi hutang. Heru dipecat oleh bos nya yang bernama Mieke (Aida Nurmala) dengan persetujuan ayahnya (Tarzan). Situasi menjadi semakin parah tatkala Ahmad dan Heru diusir dari kontrakan oleh Ibu Kos mereka (Amink)

Kalo menurut saya sih sebenernya nih film datar banget nggak begitu spesial, tapi yang jelas mengusung tema baru buat perfilman kita. Dan juga didukung oleh produser yang kita tau lumayan menghasilkan film berkualitas.

Selamat menonton

Nonton Laskar Pelangi The Movie

Kemarin saya nonton Laskar Pelangi the movie. Film ini merupakan produksi dari Miles Production yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Bercerita dengan setting tahun 70’an di Desa Gantong Pulau Belitong yang pada masa itu masih bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Tapi sekarang sudah mengalami pemekaran menjadi Provinsi Bangka Belitung. Di mana pada saat Pulau Bangka dan Belitung begitu jaya dengan hasil timah nya yang dikelolan oleh PN Timah ( sekarang PT Timah ).
Ceritanya sendiri adalah mengenai perjuangan sekelompok orang tua, guru dan murid yang memperjuangkan bahwa pendidikan itu adalah untuk semua orang. Diperlihatkan pemandangan yang cukup kontras antara sekolah yang mempunyai semua fasilitas seperti SD PN Timah dengan sekolah perintis yaitu SD Muhammadyah Gantong yang bahkan untuk mendapatkan murid baru pun susah. Ketika saya melihat ini saya langsung terbawa flashback kilas balik ke belakang yang membuat saya merasa beruntung sekaligus merasa sedih. Saya merasa beruntung karena saya juga termasuk dari sekian orang yang pernah merasakan dan menikmati fasilitas sekolah seperti yang digambarkan pada SD PN Timah itu, ya saya sekolah dari TK sampai SMP di sekolah yang dimiliki PT PUSRI salah satu BUMN penghasil pupuk terbesar nasional di Palembang. Yang semua fasilitas dan kemampuan guru terbaik kita punyai.
Disisi lain saya menjadi sedih karena keadaan seperti SD Muhammadyah yang digambarkan itu memang ada. Saya Kuliah Kerja Nyata pada tahun 2000-an di Kecamatan Pampangan, Sumatera Selatan. Pampangan sendiri tidak jauh dari Ibukota Propinsi Palembang dan Ibukota Kabupaten OKI, Kayu Agung. Pada waktu kami KKN, kami didatangi sama Kepala Sekolah SD Muhammadyah Pampangan untuk meminta kami mengajar di sana karena sudah dekat dengan Ebtanas dan memang mereka tidak punya guru lain, yang pada akhirnya saya ketahui satu-satunya guru mereka ya cuma kepala sekolahnya bedanya cuma mereka muridnya cukup tidak seperti yang di laskar pelangi yang terancam ditutup. Di sana sendiri ada SD Negeri, tapi memang terasa sekolah kita kurang cukup banyak menampung siswa dan juga kurang cukup murah dan lengkap fasilitas baik fisik maupun sdm-nya.

Dari film dan novel ini yang katanya adalah pengalaman dari sang penulis sendiri bisa membuka mata kita, bahwa untuk mencerdaskan bangsa ini tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah saja ataupun organisasi2 sejenis Muhammadyah saja , tapi memerlukan tanggung jawab dari kita semua, agar penerus bangsa kita punyai yang merupakan berlian yang belum terasah tidak pudar… Agar tidak ada Lintang yang tersia-siakan

Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, tapi dari kesan yang mendalam yang saya lihat dari filmnya saya yakin memang novelnya memang fenomenal, dan saya berjanji saya akan beli dan baca ( kalau sempat hehe ).